Skandal di Bohemia (5)

Seorang pria masuk. Tingginya kurang dari enam kaki enam inci dengan dada dan lengan seorang Hercules. Pakaiannya terlihat mewah dengan pernak-pernik yang, di Inggris, akan dianggap dekat dengan selera yang rendah.

Pita astrakham yang berat terikat pada lengan dan rompinya sementara jubah biru gelap yang disangkutkan pada bahunya dipadukan dengan sutera berwarna merah dan dililitkan pada leher dengan sebuah bros yang tersusun dari sebuah berilium merah. Sepatu bot yang tinggi sampai betisnya, dan bagian atasnya dihiasi dengan bulu coeklat yang lebat, melengkapi kesan kemewahan barbar yang dikesankan oleh seluruh penampilannya.

Skandal di Bohemia (4)

Ia melemparkan selembar kertas catatan tebal bertinta merah jambu yang tergeletak di meja. “Itu datang dengan pos terakhir,” katanya. “Bacalah keras-keras.”

Catatan itu tidak bertanggal dan tanpa tanda tangan maupun alamat.

Catatan itu terbaca: “Malam ini, jam delapan kurang seperempat, seorang pria terhormat akan datang kepadamu, ingin berkonsultasi denganmu tentang sebuah masalah yang sangat penting pada saat ini. Jasa-jasamu pada salah satu keluarga kerajaan di Eropa telah memperlihatkan bahwa kau adalah orang mungkin dapat dipercayai dengan aman dalam hal-hal yang kepentingannya tak bisa dianggap berlebihan. Pembahasan tentangmu kami terima dari semua penjuru. Tetaplah di kamarmu pada jam itu, dan ingatlah bahwa tamumu akan mengenakan cadar.”

Skandal di Bohemia (3)

Maka pada suatu malam – pada tanggal 20 Maret 1888 – aku kembali dari rumah seorang pasien (karena aku sekarang telah kembali membuka praktik). Langkahku melintasi Baker Street.

Saat aku melintasi pintu yang sangat kuingat itu, yang dalam pikiranku selalu kukaitkan dengan proses pinanganku, dan dengan adanya insiden-insiden gelap dalam Study in Scarlet, aku merasakan keinginan yang kuat untuk mengunjungi Holmes lagi, dan untuk mengetahui bagaimana ia menggunakan kekuatannya yang luar biasa itu.

Skandal di Bohemia (2)

Belakangan ini aku jarang mengunjungi Holmes. Pernikahanku membuat kami saling menjauh. Kebahagiaanku yang lengkap, dan minat-minat kepada rumah yang muncul dalam diri seorang pria yang baru pertama kali menyadari bahwa dirinya adalah seorang kepala dalam rumah tangganya sendiri, cukup menyerap semua perhatianku.

Sementara itu, Holmes yang berjiwa Bohemian masih enggan menerima setiap bentuk kemasyarakatan, dan tetap tinggal di kamar sewaan kami di Baker Street. Ia terkubur di antara buku-buku tuanya, dan dari minggu ke minggu berpindah-pindah antara kokain dan ambisi, rasa kantuk karena obat-obatan, dan energi dahsyat dari sifatnya yang tekun.

Skandal di Bohemia (1)

Bagi Sherlock Holmes, wanita itu selalu merupakan wanita itu. Aku jarang mendengar Holmes menyebutkan namanya dengan nama selain nama itu. Dalam pandangan Holmes, wanita itu terkemuka dan berdiri lebih tinggi di kalangan kaum wanita.

Bukan berarti Holmes merasakan suatu perasaan yang mirip cinta terhadap Irene Adler. Semua emosi, dan terutama emosi yang itu, adalah menjijikkan bagi pikirannya yang dingin, presisi, namun sangat berimbang. Aku menganggap ia sebagai mesin penalaran dan pengamatan terbaik yang pernah ada di dunia ini.


Namun, sebagai seorang kekasih, ia meletakkan dirinya pada sebuah posisi yang salah.