Skandal di Bohemia (4)

Ia melemparkan selembar kertas catatan tebal bertinta merah jambu yang tergeletak di meja. “Itu datang dengan pos terakhir,” katanya. “Bacalah keras-keras.”

Catatan itu tidak bertanggal dan tanpa tanda tangan maupun alamat.

Catatan itu terbaca: “Malam ini, jam delapan kurang seperempat, seorang pria terhormat akan datang kepadamu, ingin berkonsultasi denganmu tentang sebuah masalah yang sangat penting pada saat ini. Jasa-jasamu pada salah satu keluarga kerajaan di Eropa telah memperlihatkan bahwa kau adalah orang mungkin dapat dipercayai dengan aman dalam hal-hal yang kepentingannya tak bisa dianggap berlebihan. Pembahasan tentangmu kami terima dari semua penjuru. Tetaplah di kamarmu pada jam itu, dan ingatlah bahwa tamumu akan mengenakan cadar.”


“Ini memang misteri,” kataku. “Menurutmu, apa artinya ini?”

“Aku belum punya data. Adalah sebuah kesalahan besar untuk membuat sebuah teori sebelum kita memiliki data. Pasti kita hanya akan memelintir fakta agar sesuai dengan teori, bukannya teori yang sesuai dengan fakta. Tapi tentang catatan itu sendiri, apa yang bisa kaudeduksi dari situ?”
Aku memeriksa catatan itu dengan teliti, dan juga kertas yang digunakan untuk menuliskan catatan itu.

“Orang yang menulisnya kemungkinan besar adalah orang yang kaya,” kataku, berusaha meniru proses berpikir sahabatku. “Harga kertas semacam ini tidak mungkin kurang dari setengah crown per paketnya. Kertas ini luar biasa kuat dan kaku."

“Luar biasa – itulah kata yang tepat,” kata Holmes. “Ini sama sekali bukan kertas buatan Inggris. Bentangkan dekat cahaya.”

Aku melakukannya, dan melihat sebuah huruf E besar dengan huruf-huruf kecil g, P dan G besar dengan sebuah huruf t kecil teranyam pada tekstur kertas itu.

“Menurutmu, apakah artinya huruf-huruf itu?” tanya Holmes.

“Pasti nama pembuatnya. Atau lebih tepatnya, monogramnya.”

“Sama sekali bukan. G dengan t maksudnya Gesselschaft, yang dalam bahasa Jerman berarti Perusahaan (Company). Itu mirip dengan penyebutan kita untuk Co. P, tentu saja, maksudnya Papier. Sekarang Eg. Mari kita lihat Continental Gazetter kita.”

Ia mengambil sebuah buku besar cokelat yang berat dari rak bukunya. “Eglow, Eglonitz – ini dia, Egria. Ini adalah sebuah negara berbahasa Jerman – di Bohemia, tak jauh dari Carlsbad. ‘Menonjol karena menjadi tempat pembunuhan Wallenstein, dan memiliki banyak pabrik kaca dan kertas.’ Ha ha, sobat, apa kesimpulanmu?”

Matanya berbinar, dan ia mengembuskan segulung asap biru kemenangan dari rokoknya.

“Kertas itu dibuat di Bohemia,” kataku.

“Sangat tepat. Dan orang yang menulis catatan itu adalah seorang Jerman. Apa kau memperhatikan bangunan kalimatnya yang aneh – “Pembahasan tentang dirimu kami terima dari semua penjuru”. Seorang Prancis atau Rusia tak mungkin menuliskan kalimat itu. Hanya orang Jerman yang sangat tidak teliti dengan kata kerja. Maka, yang tersisa adalah mengetahui apa yang diinginkan oleh orang Jerman yang menulis catatan di atas kertas Bohemia ini, dan lebih suka mengenakan cadar daripada memperlihatkan wajahnya. Dan sekarang dia datang, kalau aku tidak salah, untuk memadamkan semua kesangsian kita.”

Saat Holmes berbicara, terdengar bunyi sepatu kuda yang keras dan roda-roda yang beradu dengan batu jalan, diikuti dering bel yang lantang. Holmes bersiul.

“Dari suaranya, berarti ada sepasang,” kata Holmes.

“Ya,” lanjutnya sambil memandang keluar jendela. “Sebuah kereta kuda pribadi dan sepasang kuda yang cantik. Setiap kuda harganya seratus lima puluh guinea. Watson, ada uang besar dalam kasus ini.”

“Kukira lebih baik aku pergi, Holmes.”

“Jangan, pak dokter. Tetaplah di sini. Aku tersesat tanpa Boswell-ku. Dan aku berjanji ini akan sangat menarik. Sayang sekali kalau melewatkannya.”

“Tapi klienmu....”

“Lupakan dia. Mungkin aku memerlukan bantuanmu, dan mungkin dia juga memerlukanmu. Ini dia datang. Duduklah di kursi itu, dokter, dan perhatikan sebaik-baiknya.”

Suara langkah yang lambat dan berat, yang telah terdengar sejak di tangga dan lorong, tiba-tiba terhenti di depan pintu. Kemudian ada ketukan yang keras dan memaksa.

“Silakan masuk!” kata Holmes.

Bersambung ke Skandal di Bohemia (5)

1 comment: